GuidePedia

0
[Fokus] Ngopi, Dari Warteg hingga Kafe Mewah
TANYAKAN apa rasanya kopi kepada para penikmatnya. Dari mereka akan muncul ratusan jawaban berbeda. Soal rasa, tidak bisa bohong. Namun, tak sedikit warung pinggir jalan menyajikan kopi lebih nikmat ketimbang kafe mewah.

Heri Pengaran, misalnya, tidak lengkap rasanya jika sehari saja tanpa minum kopi. Dia mengibaratkan kopi sebagai parfum di tubuh. ?Enggak minum kopi itu rasanya seperti rumah tanpa parfum dan wangi-wangian. Adanya yang kurang rasanya,? kata pria 48 tahun ini.

Pemilik CV Pangeran Lampung ini suka minum kopi di mana saja. Ketika duduk dan mengobrol bersama rekan-rekannya, dia pun memesan kopi. Tidak peduli di kafe mewah ataupun warung pinggir jalan.

Dia pun kerap mengopi di kedai di halaman parkir lapangan Saburai. ?Saya suka traktir kopi ke teman-teman. Ya hitung-hitung berbagi dengan temanlah,? kata dia.

Tidak terhitung berapa gelas yang dia habiskan dalam sehari. Bila pekerjaan sedang padat dan banyak bertemu relasi, kopi pun tidak habis-habisnya dipesan.
Kopi bisa menjadi candu bagi penggemarnya. Hari terasa tidak seimbang jika dilewatkan tanpa asupan kopi.

Yopie Pangkey juga penikmat dan penggemar berat kopi. Hampir tiap malam dia bersama teman-teman komunitas fotografi atau komunitas yang lain kumpul bersama sambil mengopi. Tempat mengopi favoritnya adalah Kedai Kopi Aceh di Way Halim, Bandar Lampung.

Kopi juga jadi teman setia pria 39 tahun ini ketika sedang banyak pekerjaan di depan komputer. ?Asyiknya ngopi kalau sedang kerja di hadapan komputer. Biasanya ngopi ini enaknya pagi dan sore. Tapi tetap dibatasi jumlahnya, jangan sampai terlalu banyak,? kata pria yang memiliki usaha jasa perjalanan ini.

Agak berbeda, Kuswidyarso tidak terlalu banyak mengonsumsi kopi dalam sehari. Paling banyak tiga gelas. Namun, mengopi menjadi keharusan bila sedang membutuhkan ide dan solusi dari satu masalah.

?Enaknya sedang sendiri untuk mencari ide, ya teman sharing-nya itu yang pasti kopi,? kata dia. Menurutnya, kopi menjadi sebuah dukungan sugesti yang bisa memunculkan ide-ide kreatif.

Minum kopi memang bukan dominasi etnis. Acen, warga Kelurahan Palapa, Bandar Lampung, ini minum kopi rutin setiap hari 3 hingga 4 gelas. Warga keturunan Tionghoa bernama asli Lo Tjan Hin sudah kecanduan kopi puluhan tahun lalu.

Hasil yang dirasakan Acen, tubuh selalu segar dan bugar. Dia juga rutin melakukan donor darah tiap tiga bulan.

?Setiap saya mau donor darah, dokter selalu bilang darah saya bagus dan cocok untuk donor. Kopi itu bisa membantu mengencerkan darah. Donor darah juga sudah rutin sejak puluhan tahun lalu,? kata dia.

Muklas Saputra juga penikmat sejati kopi. Saking maniaknya, dia sampai lupa berapa gelas kopi yang dia habiskan dalam sehari. ?Enggak terhitung berapa gelas habis. Soalnya punya warung kopi. Kalau kopi habis yang tinggal buat sendiri,? kata dia.

Pria 40 tahun pemilik warung kopi luwak ini mengaku mencari kawan dan persahabatan lewat kopi. Kadang ada beberapa pembelinya yang minum kopi kemudian tidak bayar. ?Ya, saya ikhlaskan saja. Kan cuma segelas kopi. Saya berdagang bukan hanya cari uang, juga cari kawan,? kata dia.

Selain dengan ketan atau siwok, kopi juga asyik dinikmati dengan durian. Durain matang dicelupkan dalam kopi yang masih panas dan kemudian diaduk.

Hidayat, warga Kedamaian, adalah salah satu penggemar kopi durian. Pria dengan perawakan gemuk ini mengaku mendapatkan kenikmatan ganda dengan aroman dan rasa durian yang menyatu dalam kopi.

Namun, tidak selalu ada durian sepanjang waktu. Kadang durian sulit didapat. Tetapi, kini sudah ada kopi saset rasa durian yang dijual di beberapa toko oleh-oleh di kawasan Telukbetung. Meski tidak sama seperti kopi durian yang diracik sendiri, kopi instan ini bisa menjadi penghapus dahaga para penikmat kopi.

Kopi bukan milik semua genarasi. Setiap orang bisa menikmati kopi dengan cara sendiri. Bila kurang suka dengan aroma yang dan rasa kuat, bisa dicampur dengan susu, cokelat, krim, dan moka. Di kafe-kafe pun banyak menyajikan variasi kopi blended yang sudah dicampur dengan berbagai bahan sehingga aroma dan rasa kopinya tidak terlalu kuat.

Kuswidyarso, pengelola Warung Kopi di Jalan Nusa Indah, Pahoman, mengatakan beda usia beda kesukaan akan kopi. Ada beberapa anak muda, terutama wanita, yang kurang suka dengan rasa kopi yang teralu kuat. Kalangan ini hanya ingin menikmati sedikit rasa kopi saat berkumpul dengan orang yang maniak sekali dengan kopi.

Lo Tjan Hin, pemilik The Coffee, mengaku kaget dengan banyaknya pencinta kopi di Lampung. Tradisi mengopi di Lampung sudah kuat. Tidak hanya didominasi para pria, kaum hawa pun banyak yang menyukai dan menggilai kopi.

Namun, dia menilai derajat kopi masih terpinggirkan. Masih ada anggapan bahwa minum kopi membuat sakit mag atau nyeri lambung. Padahal, kopi punya khasiat yang baik untuk kesehatan.

?Kualitas kopi memengaruhi rasa. Kualitas kopi yang buruk itulah yang membuat orang yang meminumnya tidak mendapatkan khasiat, tapi malah sakit,? kata pria yang akrab disapa Acen ini.

Orang-orang di Lampung yang betul-betul penikmat kopi, kata Acen, masih kesulitan menemukan kopi yang berkualitas baik. Mereka kadang harus pergi ke Jakarta hanya untuk menikmati kopi yang enak dan mantap.

Holid Balaw pun mengakui kualitas kopi yang dijual di pasaran banyak yang buruk. Ada yang dicampur jagung atau beras. Kualitas kopi seperti ini membuat penilaian orang akan kopi di Lampung jelek.

Acen menilai kualitas kopi yang buruk itu disebabkan cara memanen kopi yang salah. Banyak petani yang memanen dengan cara diserut sehingga kopi yang matang dan kopi yang masih mentah bercampur.

Seharusnya kopi yang dipilih adalah kopi yang benar-benar matang dan merah sehingga kualitasnya pun sempurna. ?Kalangan petani dan pedagang masih berpikiran kuantitas daripada kualitas untuk urusan kopi,? kata dia.  (PADLI RAMDAN/M-2)

Sumber: Lampung Post,

Post a Comment

 
Top